Satu Gagasan Membangun Kriteria Kepemimpinan Keteladanan


1. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

Menjelang pesta demokrasi atas pelaksanaan PEMILU 2004 (april), kita dihadapkan dengan isu politik yang banyak dibicarakan oleh orang yang resah dengan peran Kepemimpinan masa depan yang sangat menentukan arti kebangkitan Indonesia baru dalam kita memasuki melinium ketiga dalam abad 21 ini yang penuh ketidak pastian dalam menghadapi perubahan dari seluruh aspek kehidupan.

Mampukah Bangsa Indonesia ke luar dari masalah abnormal yang kita sebut dengan daur hidup berada dalam posisi seperti dibayangkan diambang keberangkutan Negara ini kedalam masalah komplek menjadi penyakit, ditambah dengan Isu yang berkembang membicarakan tentang Politikus tidak bermoral . Dua kata tersebut, memang tidak sedap kedengarannya dan hanya mengarah kepada satu peran artinya politikus mengandung arti ahli politik, ahli kenegaraan atau orang yang berkecimpung di bidang politik, sedang tidak bermoral artinya berbau tidak sedap, jahat, buruk.

Walaupun pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden yang bertolak dari politikus, namun masa depan Bangsa Indonesia akan ditentukan oleh peran-peran kepemimpinan dalam lembaga kenegaraan legislatif, ekskutif dan yudikatif dan oleh karena itu isunya sebaiknya kita ungkapkan yang berkaitan dengan kepemimpinan keteladanan versus tidak bermoral artinya dimanapun ia berada lebih mementingkan kepentingan individu dan kelompok, mengapa ? karena kita akan dihadapkan dua posisi yaitu satu posisi akan dipilih oleh rakyat secara langsung dan disisi lain apakah hanya di calonkan oleh partai politik.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka dalam menentukan pilihan calon kepemimpinan masa depan yang mampu memberikan keteladanan dalam kehidupan merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk membangun Indonesia baru agar bisa keluar pada masalah abnormal dari kompleksitas menjadi penyakit

2. MEMBANGUN INDONESIA BARU

Kita menyadari sepenuhnya, kekuatan ekonomi mungkin bersumber dari AS dan dalam banyak hal menuju ke Eropah dan Pasifik, disinilah letak peluang yang harus kita rebut dalam kurun waktu 10 tahun untuk kita bangkit dalam menemukan Kepribadian Bangsa Indonesia sebagai Negara yang ikut menentukan kebangkitan Ummat di dunia.

Oleh karena itu untuk dapat meraih peluang-peluang di kawasan Asia – Pasifik, yang kita bangun dalam tatanan baru dalam kekuasaan yang bersifat kologial berdasarkan synergy individu menjadi inovasi kekuasaan negara, karena itu kita bayangkan mundur 30 tahun kebelakang karena kita dihadapkan mencari Kepemimpinan pada semua tingkat yang dapat mendukung secara utuh langkah reformasi yang ingin kita perjuangkan negara dalam menata Bangsa dan Negara Indonesia ini. Mengapa hal ini kita ungkapkan sebagai sentral permasalahan yang bersifat strategis karena tidak mudah merubah sikap dan perilaku dari keperibadian yang kiblat kepada manusia menuju kepada kiblat kepada prestasi yang di ridhoi oleh Maha Kuasa.

Sejalan dengan pemikiran diatas, bila kita ingin meletakkan landasan yang kuat setelah Pemilu 2004, maka kita membutuhkan Kepemimpinan yang mampu meletakkan landasan keteladanan yang mampu memanfaatkan kekuatan pikirannya untuk mengutamakan kepentingan ummat dari kepentingan pribadi dan kelomok sehingga ia berpikir kedalam :

  • Merebut peluang untuk kemenangan kelompok reformis agar mampu meletakkan landasan sikap dan perilaku yang berkesinambungan untuk kebangkitan ummat islam dan bangsa Indonesia, bila kesempatan berlalu maka kita tidak dapat merebut dari kelompok status quo, ini berarti kita akan mundur lagi dalam 10 tahun.
  • Kita syukuri rahmat Tuhan yang memberikan langkah awal untuk menyatukan perubahan sikap dan perilaku untuk mewujudkan demokrasi sebagai strategi perjuangan, bila kita menghilangkan peran kepemimpinan yang tidak bermoral.
  • Kita syukuri rahmat Tuhan yang memberikan langkah kedua sebelum PEMILU dengan kesepakatan untuk menggalang kekuatan untuk menahan lajunya keinginan yang mempertahankan status quo oleh kepemimpinan tidak bermoral.
  • Perlu menyiapkan strategi untuk memenangkan dalam PEMILU dalam membentuk opini bahwa kemajuan masa depan sangat tergantung keinginan bersama mewujudkan demokrasi sebagai alat perjuangan oleh peran kepemimpinan yang bermoral.
  • Meningkatkan acara dialog yang produktif untuk menyepakati prinsip-prinsip untuk berkolaborasi demi kebangkitan demokrasi, yang sejalan dengan tuntutan perubahan yaitu prinsip-prinsip proses perubahan, prinsip-prinsip mentransformasi perubahan, dan prinsip-prinsip perbaikan yang berkelanjutan. Selanjutnya dapat ditindak lanjuti untuk forum diskusi untuk melahirkan rumusan-rumusan ksepakatan.

Kita sadari bahwa reformasi kehidupan bernegara telah bergulir, sejak tumbangnya rezim orde baru, dengan penuh harapan akan ada perubahan secara radikal dalam berpikir, tapi kenyataan yang kita hadapi sampai saat ini bahkan dalam menuju Pemilu 2004, banyak pemimpin yang mengaku beragama Islam sendiri memperlihatkan gaya yang saling salah menyalahkan satu sama lain dan tidak jarang menyerang tentang kepribadian seseorang.

Dengan memperhatikan hal-hal yang kita utarakan diatas, agar kita mampu membangun Indonesia Baru, sangatlah ditentukan oleh keberhasilan ummat menentukan pilihan peran peran Kepemimpinan yang bermoral. Begitu resahnya orang-orang yang peduli akan reformasi, maka lahirlah isu-isu yang sedang dikumandangkan apa yang disebut dengan POLITIKUS yang tidak bermoral. Sejalan dengan pemikiran itu apa yang dapat kita lakukan pada saat sekarang ini dan harapan apa yang dapat kita bayangkan ditengah kemelut pelaksanaan reformasi kehidupan bernegara yang sedang kacau balau ini.

Oleh karena itu marilah kita mendukung pemikiran dalam mensosialisasikan isu politikus yang tidak bermoral menjadi mencari KEPEMIMPINAN KETELADANAN, agar perubahan yang kita harapkan bukanlah sekedar perubahan hanya membuat kebijakan-kebijakan yang hanya kepentingan sesaat, melainkan perubahan-perubahan untuk kepentingan jangka panjang yang harus ditopang dengan komitmen bersama.

3. KRETERIA PEMILIHAN KEPEMIMPINAN BERMORAL

Pola pikir yang tumbuh dan berkembang dalam masa orde baru dan masa reformasi dalam mentalitas bangsa Indonesia , pada dasarnya dapat kita kelompokkan menjadi : Pertama, pola pikir yang berlandaskan kiblat kepada manusia dalam hubungan antara atasan dengan bawahan atau pengikut ; Kedua, pola pikir yang berlandaskan kiblat kepada karya yang diridhoi oleh Allah Swt.

Pengalaman telah menunjukkan kehancuran yang kita alami sampai saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena mereka tidak dapat melepaskan diri dalam pola pikir untuk bersikap dan berperilaku yang berlandaskan kiblat kepada manusia, walaupun katanya kita telah memasuki alam demokrasi. Setiap peran yang dimaikan oleh mereka dalam kedudukan baik di pemerintahan maupun swasta sangat mengagungkan benda dan kekuasaan dalam kehidupan demi untuk memperlihatkan status sosial yang bertentangan ajaran agama yang dipeluknya.

Sejalan dengan pemikiran-pemikiran yang telah kita ungkapkan pada bagian terdahulu, maka kreteria-kreteria yang dirumuskan ini, merupakan gagasan yang dapat dipergunakan untuk menilai seseorang yang akan dipilih menjadi pemimpin pada semua tingkatan dalam suatu struktur organisasi formal dengan uraian seperti dibawah ini :

A Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan rohaniah merupakan tonggak utama yang memberikan sinar kejiwaan seseorang, apakah ia mampu mengenal tentang dirinya, sebagai awal untuk apa ia hidup ini dan bagaimana ia harus menjalankan dalam kehidupan sesuai dengan ajaran agama yang dipahaminya, dengan Bobot 18 : mencakup Nilai :

  1. Kejujuran merupakan sumber membentuk individu yang memiliki intergritas dan komitmen dalam berkarya dengan niatnya dalam bertindak, dengan bobot 3 mencakup nilai:
    • berperilaku amar ma’ruf dan nahi munkar (2)
    • berperilaku dalam pengorbanan dan ketenteraman (1)
    • berperilaku tanpa berprinsip hidup (0)
  2. Rasa Cinta merupakan sumber untuk mengenal diri dalam beraktualisasi, dengan bobot 3 mencakup nilai :
    • berperilaku dalam pengorbanan, ketenteraman dan harapan (2)
    • berperilaku dalam pengorbanan dan ketenteraman (1)
    • berperilaku dalam harapan tanpa berbuat (0)
  3. Bersyukur merupakan sumber untuk menempa diri untuk terlepas dari kesombongan, lupa daratan dan mau menang sendiri dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • berperilaku setiap saat untuk bersyukur dari setiap perbuatan (2)
    • berperilaku untuk bersukur pada saat kepentingan tercapai (2)
    • berperilaku tanpa bersyukur (0)
  4. Sabar merupakan sumber untuk menempa diri kedalam ketenangan, ketabahan, ketekunan, ketelitian dan ketawakalan dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • berperilaku dengan tinmgkat kesabaran yang utuh (2)
    • berperilaku dengan tingkat kesadaran yang tidak utuh (1)
    • berperilaku dengan tingkat tidak memiliki kesabaran. (0)
  5. Silahturami merupakan sumber untuk mmenempa diri dalam berdemokrasi secara utuh dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • berperilaku untuk dapat memberi dan menerima dari perbedaan (2)
    • berperilaku untuk menekankan menerima tanpa memberi (1)
    • berperilaku untuk untuk selalu mencurigai. (0)
  6. Memahami menuju perjalanan abadi dengan keyakinan agama yang dianutnya sebagai sumber dalam menempa diri dalam perjalanan hidup dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • berrperilaku dalam dunia sebagai kebun akherat (2)
    • berperilaku dalam dunia sebagai tujuan hidup (1)
    • berperlaku dalam dunia sebagai penjara hidup.(0)

B. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tingkat kedewasaan sosial dari hasil pemahaman yang mendalam dari usaha peningkatan kedewasaan rohaniah, yang akan ditunjukkan oleh seseorang dalam aktualisasi dalam kehidupunnya dengan Bobot 15, mencakup Nilai :

  1. Keteladanan dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • ditunjukkan secara terbuka (2)
    • ditunjukkan secara semu (1)
    • ditunjukkan yang tidak berkelanjutan (0)
  2. Kebenaran dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • dari hasil aktualisasi menurut keyakinan agama (2)
    • dari pikiran yang sangat menentukan (1)
    • dari pikiran yang tidak menentu (0)
  3. Kepekaan dengan bobot 3, mencakup nilai
    • sangat memiliki dan mnghayati (2)
    • memiliki dan kurang menghayati (1)
    • tidak memliki dan tidak menghayati (0)
  4. Gaya hidup dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • yang sesuai dengan tuntunan agamanya (2)
    • yang berpura-pura dituntun agamanya (1)
    • yang mengagungkan kepada materi semata-mata (0)
  5. Berkarya untuk ummat dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • untuk ummat secara utuh (2)
    • untuk ummat tidak secara utuh (1)
    • mengutamakan kepentingan individu dan kelompok (0)

C. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan melepaskan diri dari KKN dengan Bobot 9 mencakup Nilai :

  1. Melepaskan diri untuk berbuat kepentingan pribadi dan atau kelompok untuk melakukan korupsi yang merugikan kepentingan orang banyak dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • tidak biasa (2)
    • kurang biasa (1)
    • sudah biasa (0)
  2. Melepaskan diri untuk berbuat kepentingan pribadi, kelompok dan atau fihak ketiga lainnya dengan maksud tertentu untuk melakukan perbuatan kolusi dalam perbuatan dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • tidak biasa (2)
    • kurang biasa (1)
    • sudah biasa (0)
  3. Melepaskan diri untuk berbuat kepentingan pribadi, kelompok dan atau fihak ketiga lainnya dengan maksud tertentu untuk melakukan perbuatan nepotisme dalam perbuatan dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • tidak biasa (2)
    • kurang biasa (1)
    • sudah biasa (0)

D. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan pemahaman dan melaksanakan hukum dengan Bobot 9 , mencakup Nilai :

  1. Pemahaman tentang hukum dan meyakini untuk dilaksanakan dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • sangat menguasai arti kepentingannya (2)
    • kurang menguasai arti kepentingannya (1)
    • tidak menguasai arti kepentingannya (0)
  2. Pemahaman perlakuan hukum dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • memliki komitmen perlakuan hukum sama (2)
    • kurang memiliki komitmen perlakuan hukum sama (1)
    • tidak memiliki komitmen dalam perlakuan hukum (0)
  3. Menjalani hukuman dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • belum pernah menjadi tersangka (2)
    • pernah menjadi tersangka (1)
    • pernah menjalani hukuman (0)

E. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tingkat penguasaan kedewasaan kecerdasan emosional dalam kepemimpinan dan organisasi. Dengan kesadaran, maka melahirkan kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi dengan Bobot 12, mencakup Nilai :

  1. Kesadaran emosi dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • secara utuh orang memilikikekuatan pribadi yang ditopang oleh kesadaran diri yang bersumber dari kejujuran emosi, energi emosi, umpan balik emosi dan intuisi emosi (2)
    • tidak secara utuh orang mampu membangun kehidupan pribadi (1)
    • tidak mampu membangun kesadaran emosi (0)
  2. Kebugaran emosi dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • secara utuh mampu membangun inspirasi untuk diri sendiri dan orang lain (2)
    • hanya berdampak untuk diri sendiri dan tidak orang lain (1)
    • kebugaran yang tidak berdampak sama sekali dalam kehidupan (0)
  3. Kedalaman emosi dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • kedalaman emosi yang utuh dalam arti panggilan hidup, komitmen, intergritas terapan dan mempengaruhi tanpa otoritas (2)
    • kedalaman emosi yang tidak utuh (1)
    • tidak memiliki kedalaman emosi. (0)
  4. Alkimia emosi dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • memiliki scara utuh proses aliran intuitif, menghargai wujud alih waktu reflektif (2)
    • memiliki secara utuh proses tetapi terdapat batasan-batasan tertentu (1)
    • tidak memiliki secara utuh proses untuk mewujudkan kesadarran (0)

F. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tingkat penguasaan pengetahuan yang sejalan dengan pendidikan yang dimiliki, dengan Bobot 15 mencakup Nilai :

  1. Ilmu, seperangkat pengetahuan yang dimiliki karena mingikuti pendidikan formal dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • Strata S3 dan S2 (2)
    • Strata S1 dan pendidikan profesional sederajat (1)
    • dibawah S1 (0)
  2. Seperangkat pengetahuan dari pengalaman sendiri dan atau orang lain dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • kemampuan melaksnakan pendekatan empiris dan dialektik dlm mencari kebenaran (2)
    • kemampuan melaksanakan pendekatan empiris (1)
    • tidak memiliki kemampuan menerapkan berpikir logis. (0)
  3. Penguasaan informasi dari segala aspek kehidupan baik lokal maupun internasional dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • penguasaan informasi dengan cepat dan akurat (2)
    • penguasaan informasi dengan akurat tapi tidak cepat (1)
    • tidak memiliki kemampuan menguasai informasi (0)
  4. Penguasaan bahasa dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • menguasai secara baik dua bahasa asing (2)
    • menguasai secara baik satu bahasa asing (1)
    • tidak menguasai secara baik bahasa asing (0)
  5. Penguasaan pemanfaatan computer dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • mampu memanfaatkan sistem teknologi informasi (2)
    • memahami teknologi informasi dan tidak dapat memanfaatkannya (1)
    • tidak bisa memanfaatkan teknologi informasi (0)

G. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan keterampilan dari pengalamannya dengan Bobot 22 mencakup Nilai :

  1. Kolaborasi dengan bobot 3, mencakup nilai
    • meyakini dan melaksanakan (2)
    • kurang meyakini dan melaksanakannya (1)
    • tidak meyakini pentingnya arti kolaorasi (0)
  2. Komitmen dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • memiliki atas dasar kesadaran sendiri (2)
    • memiliki atas dasar yang dipaksakan (1)
    • tidak memiliki (0)
  3. Komunikasi dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • memiliki kemampuan baik sekali (2)
    • cukup memilki kmampuan (1)
    • tidak memiliki kemampuan (0)
  4. Kreativitas individu dan kelompok dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • memiliki kemampuan baik sekalai (2)
    • cukup memiliki kemampuan (1)
    • tidak memiliki kemampuan (0)
  5. Inovasi kedalam organisasi dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • sangat berperan untuk mendorong terciptanya inovasi (2)
    • kurang berperan untuk mendorong teciptanya inovasi (1)
    • tidak ada perhatian untuk membangun inovasi (0)
  6. Analisa masa depan dan antisipatif dengan bobot 3, mencakup nilai :
    • memiliki kemampuan dengan baik untuk melaksanakannya (2)
    • kurang memiliki kemampuan dengan baik untuk melaksnakannya (1)
    • tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya (0)
  7. Proses pengambilan keputusan dengan bobot 4, mencakup nilai :
    • memiliki kemampuan dengan baik untuk melaksanakannya (2)
    • kurang memliki kemampuan dengan baik untuk melaksanakannya (1)
    • tidak memiliki kmampuan untuk melaksanakannya (0)

4. PENUTUP

Gagasan ini dilontarkan untuk menghindari silang pendapat yang terkait dengan isu politikus tidak bermoral, maka dalam usaha mencari solusi keresahan terhadap ketidak puasan yang ada dipelopak mata ini terhadap orang-orang yang sedang merebut peran dan kekuasaan yang sudah tidak dapat dipercaya lagi, maka sangat sulit untuk menyadarkan bagi orang-orang untuk belajar mengenal tentang dirinya, sebaiknya kita tidak usah membuat daftar politikus tersebut yang akan menimbulkan masalah baru sedangkan kita menginginkan pelaksanaan PEMILU tahu 2009 lebih baik dalam pelaksanaan demokerasi yang sehat.

Oleh karena itu, marilah kita merumuskan kesatuan visi dalam sikap dan misi dalam perilaku melalui proses perumusan Kreteria Kepemimpinan Bermoral, setelah itu kita aplikasikan dalam kehidupan untuk mendidik pemilih setelah daftar nama calon diumumkan untuk dibentuk satu komite menilainya sesuai dengan kreteria yang ditetapkan secara kuantitatip untuk disebar luas kepada masyarakat tetang informasi yang dapat dipergunakan oleh pemilih mengambil keputusan.

Setiap unsur dalam kreteria diberi bobot, dan setiap bobot memiliki nilai dengan menetapkan tiga kemungkinan nilai yang terdiri dari 2, 1, 0. Setelah kita menetapkan pada penilaian yang kita tenukan, selanjutnya dikalikan dengan bobot. Jumlah nilai keseluruhan merupakan pandangan individu kita, sebagai dasar kita membuat keputusan dalam memilih bukan hanya sekedar dipaksakan dan ikut-ikutan saja dalam mempergunakan hak suara.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s