Indonesian Strategic Forum


I. Pendahuluan :

Berangkat dari gagasan dasar untuk mewujudkan tujuan bernegara yakni terciptanya kesejahteraan rakyat dan pemanfaatan sumber daya negara baik phisik dan non phisik bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sehingga sistem kenegaraan tentunya dibangun guna mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia melalui proses partisipasi, transparansi, berkeadilan dengan menekankan pada akuntabilitas di dalam mengelola sumber daya negara.

Didalam mencapai tujuan bernegara seharusnya melibatkan seluruh stakeholders terutama seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan kapasitas, peran dan fungsi yang diemban oleh setiap individu rakyat Indonesia . Sehingga arah tujuan bernegara yang telah dituangkan didalam konstitusi negara merupakan agenda bersama yang dapat dilaksanakan dengan dukungan segenap stakeholders dengan menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.

Institusi negara sebenarnya dibangun untuk dapat melaksanakan mandat rakyat didalam mencapai tujuan bernegara sehingga institusi negara memiliki misi untuk dapat tercapainya cita-cita bernegara sesuai dengan amanah rakyat yang telah dituangkan didalam konstitusi.

Lembaga-lembaga negara merupakan institusi untuk dapat melaksanakan misi kenegaraan sesuai fungsinya masing-masing baik di eksekutif, legislatif(DPR/DPRD/DPD), hukum (MA), pemeriksaan keuangan negara (BPK), Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial.

Pola hubungan antara rakyat dan institusi negara seharusnya dibangun secara simultan dengan interaksi yang sebangun dengan kebutuhan rakyat sebagai tujuan akhir sekaligus sebagai pelaku aktif pengembangan dan pengelolaan sumber daya.

Realitas yang terjadi saat ini terjadi gap yang sangat jauh antara rakyat, institusi Negara (yang sebenarnya dikelola oleh wakil rakyat baik di eksekutif maupun legislatif dan institusi lainnya) yang pada akhirnya belum membawa tujuan bersama dalam mencapai kesejahteraan baik lahir maupun batin.

Prinsip-prinsip dasar dalam bernegara yang telah dituangkan dalam 5 (lima) prinsip dasar di dalam Pancasila yakni : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum dapat dikembangkan kedalam suatu sistem tata nilai yang menyatu sebagai core values bagi segenap rakyat Indonesia dalam menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari baik sebagai individu, kelompok didalam organisasi baik sektor publik maupun bisnis.

Konsepsi Sistem Manajemen Strategis Negara didalam mengelola sumber daya baik tangible (phisik) dan intangible (non phisik) seharusnya dilakukan dengan melibatkan partisipasi dari segenap stakeholders dengan didukung oleh transparansi informasi. Hal ini diperlukan agar tingkat trust worthy (nilai kepercayaan )rakyat yang saat ini sangat rendah terhadap institusi negara dapat dipulihkan sehingga partisipasi rakyat melalui pembayaran pajak misalnya dapat dilakukan secara fairness dan accountable .

Sumber daya negara seharusnya dikelola dengan Sistem Manajemen Strategis guna mencapai visi bersama ( common vision ) yang terwujud secara konkrit dan berkelanjutan berdasarkan misi dasar dan nilai-nilai dasar ( core values ). Sumber daya yang akan dikelola terdiri dari sumber daya tangible asset (phisik) dan intangible asset (non phisik) dengan pendekatan proses manajemen strategis, yang dibangun dengan prinsip-prinsip dasar strategi yang akan dieksekusi melalui proses yang akan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholders .

Pendekatan yang akan digunakan adalah dengan menggugah segenap stakeholders Republik Indonesia baik secara institusi negara maupun sebagai individu rakyat, kelompok masyarakat, organisasi baik di sektor publik maupun sektor bisnis untuk dapat memberikan partisipasinya baik berupa gagasan, keahlian, kepedulian, dan kecintaannya kepada negara dan tanah air yang dibangun secara sistemik dan konkrit dengan semangat dari, untuk dan oleh rakyat Indonesia.

The Indonesian Strategic Forum merupakan perwujudan gagasan strategis yang sederhana dalam bentuk wahana komunikasi, sharing pengetahuan, inovasi, dan informasi dengan misi dasarnya mewujudkan cita-cita bernegara yang telah dituangkan dalam konstitusi negara ( Pembukaan UUD 1945) didalam kehidupan keseharian sebagai warga baik didalam beraktifitas di masyarakat maupun organisasinya baik sektor publik maupun bisnis dengan tujuan bersama mencapai tujuan bernegara sesuai dengan amanah konstitusi.

Forum ini merupakan media yang dikembangkan secara demokratis dan terbuka (Open Source System) berangkat dari kesadaran akan pentingnya partisipasi dari segenap rakyat Indonesia didalam mengelola sumber daya negara secara efektif, efisien, ekonomis, adil dan berkelanjutan serta memberikan nilai tambah dalam mencapai visi kebangsaan yang telah dituangkan secara jelas didalam konstitusi.

Peran serta seluruh rakyat didalam mencapai cita-cita bersama memerlukan suatu visualisasi yang jelas bagi segenap constituent dan stakeholders untuk dapat membangun pemahaman, dan dapat dilaksanakan sesuai dgn kapasitas dan posisinya masing-masing dengan koridor tujuan bernegara yang dibangun melalui konsensus bersama.

II. Strategic Agenda

The Indonesian Strategic Forum menggunakan pendekatan pengembangan Manajemen Sumber Daya Negara dengan 3 pilar utama tema strategi yakni : Produktivitas, Daya Saing, dan Keunggulan yang Berkelanjutan

Tema strategis tersebut akan dibangun melalui metodology Sistem Manajemen Strategis dengan Mission Driver sesuai tujuan bernegara didalam konstitusi, core values sesuai Pancasila dan pemenuhan kebutuhan konstituen dan stakeholders utama yakni rakyat Indonesia menjadi tujuan utama melalui pengelolaan sumber daya baik phisik maupun non phisik didukung oleh proses siklus manajemen strategis yang berkelanjutan.

Alur berpikir terbangunnya tema strategi produktifitas, daya saing dan keunggulan didasarkan oleh analisa terdapat paradoks antara ketersediaan sumber daya alam di Indonesia akan tetapi terjadi kegagalan didalam mengelola untuk kesejahteraan rakyatnya karena keterbatasan kemampuan SDM, Teknologi, Informasi dan Organisasi baik di sektor publik dan di sektor biisnis sehingga akhirnya setiap institusi akan dikembangkan dan difungsikan untuk dapat mencapai tujuan bernegara yang tentu saja membutuhkan akselerasi pengelolaan dan pertanggungjawaban sumber daya tersebut.

Phase pertama yang akan dilakukan adalah menginventarisasi segenap constituent dan stakeholders sesuai dengan needs nya masing-masing kemudian dikaitkan dengan kinerja proses pelaksanaan fungsi dan perannya masing-masing. Hal ini merupakan pijakan awal dengan tema meningkatkan produktivitas dengan tolok ukur kinerja (efektivitas, efisiensi dan keekonomisan) didalam mengelola sumber daya sebagai tema sentral pengembangan pada phase awal ini.

Phase kedua dilakukan setelah pengembangan produktifitas tersebut menjadi bagian dari agenda masing-masing individu di masyarakat yang akan menjadi pendorong tercapainya kinerja baik di organisasi sektor publik dan sektor bisnis sehingga seluruhnya siap utk menghadapi kompetisi baik secara nasional, regional dan internasional yang dibangun sesuai dengan rule of the game yang dikembangkan secara fairness , transparan dan akuntabel.

Pada phase ketiga baik individu maupun organisasi yang telah mempunyai daya saing baik secara individu maupun organisasi, akan merancang pengembangan untuk tercapainya keunggulan (champion) di masing-masing sektor baik secara secara individu maupun organisasi yang dicapai secara kolektif dan berkelanjutan.

Agenda Strategis yang dilakukan adalah dengan pendekatan Siklus Proses Manajemen Strategis (SPMS) untuk mendorong intitusi negara melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan bernegara dengan melibatkan partisipasi segenap stakeholders .

Untuk memudahkan sharing informasi, pengetahuan dan komunikasi maka Sistem Manajemen Strategis yang dikembangkan akan di visualisasikan secara menyeluruh baik di eksekutif (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah termasuk perusahaan negara dan daerah), legislatif (DPR/DPRD/DPD), Mahkamah Agung, BPK,Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial dengan masing lembaga negara tersebut dapat mengembangkan visi, misi dan strategi kelembagaannya secara sistematis dan dapat dipahami oleh segenap stakeholders serta selaras ( aligning ) dgn seluruh stakeholders lainnya termasuk sektor bisnis yang terlibat dalam proses tersebut.

PENGEMBANGAN PENDEKATAN SIKLUS PROSES MANAJEMEN STRATEGIS (SPMS) :

Sebagai tahapan untuk mengembangkan proses Siklus Proses Manajemen Strategis (SPMS) maka diperlukan pemetaan ( mapping ) untuk memudahkan pemahaman akan positioning segenap stakeholders dengan menggunakan instrumen Peta Strategi Indonesia sebagai metodologi yang dapat membantu strategi tersebut dipahami, dieksekusi dan dinilai serta dijadikan sebagai proses pembelajaran segenap masyarakat Indonesia dan segenap stakeholders baik secara nasional maupun internasional.

MISI & NILAI-NILAI DASAR :

Alur pikir agenda strategis ini dimulai dengan penetapan kembali misi dasar bernegara dengan landasan tujan bernegara yang sesuai dengan konstitusi, selanjutnya nilai-nilai dasar dibangun menjadi nilai-nilai organisasi yang mengacu pada nilai-nilai dasar bernegara dengan dalam bentuk kode etik dan code of conduct serta dikembangkan menjadi kultur organisasi yang konkrit dengan terhubung dengan misi dasar masing-masing organisasi yang dijaga eksistensinya.

SHARE VISION :

Berikutnya visi dibangun sesuai dengan tujuan bernegara menjadi bagian penting dalam mengembangkan tujuan organisasi untuk memenuhi kebutuhan layanan publik yakni : pendidikan, kesehatan, public facility , layanan publik dll sedangkan untuk sektor bisnis adalah layanan dan produk yang berkualitas dan kompetitif secara nasional dan internasional serta bagaimana sektor bisnis dapat juga dilibatkan dalam penyediaan layanan masyarakat dengan prinsip value for money (efisien, efektif dan ekonomis).

STRATEGI :

Strategi akan diarahkan untuk mencapai tingkat kepuasan pengguna terhadap kualitas dan manfaat layanan public goods/service dan private goods/services tersebut dengan pola assessment yang melibatkan partisipasi masyarakat dari, untuk dan oleh masyarakat dimana organisasi dibangun dengan fungsi-fungsi untuk kepentingan masyarakat dan dilakukan dengan partisipasi masyarakat.

SIKLUS PROSES MANAJEMEN STRATEGIS (SPMS) :

Siklus Proses Manajemen Strategis merupakan siklus yang seimbang untuk dapat menyelaraskan antara tujuan jangka panjang dan jangka pendek, sumber daya tangible dan intangible , dan aktivitas strategis dan aktivitas operasional secara berkelanjutan. Pola caused-effect relationship (hubungan sebab-akibat) antara masyarakat dengan institusi Negara baik di pusat dan daerah dapat melibatkan peran serta pihak masyarakat baik secara langsung maupun melalui organisasi yang sifatnya organisasi bisnis maupun organisasi swadaya masyarakat secara sinergis dan berkelanjutan dengan konteks tujuan bernegara.

ANALISA SEBAB – AKIBAT :

Alur berpikir dan pola system manajemen strategis dibangun dengan pendekatan prinsip-prinsip dasar Good Governance dan Corporate Governance. Pola hubungan sebab – akibat ini untuk memudahkan analisa dan pengukuran serta langkah-langkah perbaikan secara berkesinambungan yang dapat dikembangan menjadi knowledge management dan membangun knowledge society.

SISTEM KEPEMIMPINAN :

Komunitas Negarawan yang merupakan komunitas yang dibangun dengan menciptakan Knowledge Society yang akan menjadi sumber inspirasi bagi perubahan masyarakat dalam mencapai cita-cita bersama ( common vision ) sesuai dengan tujuan bernegara yang terus diproses dan disempurnakan untuk mencapai produktivitas, competitiveness , dan pada akhirnya keunggulan organisasi/masyarakat Indonesia baik secara nasional maupun internasional.

Sistem Kepemimpinan ini yang akan menjalankan sistem Manajemen Strategis dengan tujuan bernegara menjadi tema utama pengembangan strategi dengan media Peta Strategi Indonesia sebagai visualisasi dan media komunikasi.

Berikut merupakan pemetaan para stakeholders tsb :

III. Proses Diagnostic dengan pendekatan C aused & Effect Relational System

Beberapa kajian yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga dan juga proses focus group discussion dgn para pakar yang relevan di bidangnya merupakan suatu pendekatan untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya persoalan didalam sistem kelembagaan Negara dengan gejala-gejala (symptom) berupa : konflik kelembagaan, tingkat IPM SDM yang sangat rendah, produktifitas nasional yang rendah, daya saing yang rendah serta semakin tertinggalnya institusi dan rakyat Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.

IV. Proses Alignment (penyelarasan), Cascading (menurunkan) dan Integration (integrasi) Dalam Rangkaian Siklus Proses Manajemen Strategis (SPMS)

Proses alignment yang dilakukan dengan visi bernegara menjadi pijakan untuk dapat melakukan mengembalikan fungsi-fungsi kelembagaan negara sesuai dengan tujuan bernegara dan hal itu dapat diturunkan ( cascading ) dari mulai institusi negara di pusat sampai dengan institusi daerah bahkan ke setiap individu rakyat Indonesia dimanapun aktivitasnya misalnya di kelembagaan pemerintahan, LSM, dan sektor bisnis serta sektor informal.

Proses integrasi dilakukan untuk dapat mencapai quantum leap produktivitas, daya saing dan keunggulan secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s